Bagaimana Karakter Pemuda / Mahasiswa Indonesia Saat ini?


Tidak diragukan lagi bahwa Indonesia adalah negara yang kaya raya baik dari segi Sumber Daya Alam (SDA) ataupun Sumber Daya Manusia. Dari segi SDA siapa yang meragukan kekayaan negeri ini di permukaan daratannya terhampar tanah luas nan subur, di dalam buminya terkandung jutaan ton barang tambang dan sumber bahan bakar di kedalaman lautnya terdapat kekayaan dan keanekaragaman hayati yang sampai saat ini belum mampu dihitung dan dipetakan keseluruhanya. Dari sisi SDM negara ini memiliki banyak SDM andal, orang-orang terpelajar, dan pemuda-pemuda yang idealis, terbukti dengan prestasi-prestasi tingkat dunia yang diraihnya. Namun mengapa hingga saat ini bangsa kita masih berkutat dengan tidak meratanya kesejahteraan, kemiskinan, dan kesenjangan sosial yang berkelanjutan. Apa yang salah? Adalah pola pikir karakter bangsa ini yang telah berubah dan tidak lagi menuju kesejahteraan sosial yang disebut dalam pancasila dan UUD 1945, untuk itu perbaikan diperlukan yaitu bagi generasi muda. Karena generasi inilah yang nantinya akan memegang peranan strategis di wilayah pemerintahan Indonesia. Salah satu dari orang-orang terpelajar itu adalah mahasiswa. Mahasiswa merupakan aset bangsa, yang merupakan agent of change, artinya agen suatu perubahan menuju arah yang lebih baik. Perubahan sendiri merupakan hal yang mutlak dan pasti akan terjadi. Bagi orang yang ingin maju, maka perubahan menjadi faktor utama. Anak kecil belum bisa membaca, dengan usahanya belajar mengeja persuku kata, perkata, dan perkalimat maka dia akhirnya menjadi anak kecil yang dapat membaca. Itulah change secara sederhana dalam memahaminya. Perubahan membutuhkan suatu proses untuk menuju hasil yang diinginkan. Perubahan merupakan suatu perintah Tuhan, dijelaskan bahwa suatu kaum harus mau berubah jika mereka menginginkan suatu keadaan yang lebih baik. Dalam bahasa sehari dikenal dengan sekarang harus lebih baik dari hari kemarin. Untuk itu diperlukan suatu usaha di dalam diri seseorang khususnya mahasiswa. Usaha ini dimulai dengan satu hal mendasar yang sangat berpengaruh kepada setiap aktivitas kehidupannya, yaitu dengan memperbaiki karakter diri. Sejak awal sejarah perjuangan pemuda, mahasiswa memposisikan diri sebagai barisan intelektual dalam mengawal pembangunan bangsa yang ideal. Mahasiswa selalu berada di garis terdepan dalam membawa dan mengawal perubahan. Mahasiswa dikenal dengan sifat kreatif, dinamis, dekat dengan masyarakat dan selalu menjadi solusi bagi setiap permasalahan bangsa. Karakter tersebut perlu dibangun kembali pada setiap mahasiswa. Namun paradigma yang saat ini lebih dominan beredar di mahasiswa Indonesia sebagai insan akademik adalah “Lulus cepat, langsung kerja.” Sehingga yang sering terjadi adalah penanggalan peran penting mahasiswa sebagai pengabdi masyarakat, seperti yang dituangkan dalam Tridharma Perguruan Tinggi. Paradigma ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi dan pendidikan Indonesia yang sedang terpuruk. Orientasi mahasiswa saat ini lebih pragmatis ketimbang idealis ditambah lagi budaya individualis yang terus mengakar dan merasuk dalam kepribadiannya. Konsekuensi logis dari kentalnya orientasi ini adalah terpolanya perilaku-perilaku oportunistis yang negatif. Mahasiswa saat ini masih berpikir, “Bagaimana cara yang instan untuk mendapatkan nilai yang baik?” Pemikiran seperti demikian telak sekali adaptasi dari hukum ekonomi klasik, “Dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya”. Akhirnya jalan-jalan curang pun dihalalkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal bagi kepentingan pribadi. Ironinya ketika kita melihat seorang aktivis pembela mahasiswa dan rakyat kecil dari jeratan koruptor yang setelah melakukan aksi, mereka curang saat ujian. Inilah sebuah fenomena yang disebut-sebut sebagai benih-benih sifat koruptor. Fenomena lain adalah polarisasi antara kegiatan akademik dan organisasi. Jarang sekali ada mahasiswa yang mampu menyelaraskan jalannya dua kegiatan yang sama-sama bertujuan mendidik ini dengan baik. Mahasiswa yang memiliki pilihan ekstrim terhadap kegiatan akademik (study oriented) kurang bisa memberikan kontribusi riil kepada masyarakatnya. Dalam menjalani kehidupan pasca-kampus, seorang mahasiswa yang study oriented kurang memiliki kecakapan untuk dapat bekerja secara tim, padahal saat ini banyak perusahaan yang memiliki persyaratan khusus mengenai riwayat organisasi. Dalam titik ekstrim yang lain, mahasiswa yang organization oriented juga memiliki permasalahan krusial. Dengan fokus yang sangat berlebihan terhadap kehidupan berorganisasinya, mahasiswa tipe organization oriented ini kurang peduli dengan pendidikan akademiknya sehingga mendapat prestasi akademik yang kurang baik. Maka dari itu mahasiswa harus tetap dapat menjaga keseimbangan antara kepekaan terhadap lingkungan sosial maupun permasalahan bangsa dan juga kompetensi keilmuwan yang harus dimiliki. Karena mahasiswa diharapkan terus memberikan kontribusi pemikiran dan tindakan dalam membantu masyarakat, karena ia merupakan bagian dari masyarakat. Jika mahasiswa kehilangan intelektualitasnya dan keberanian dalam membela dan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, maka nasib bangsa Indonesia tidak akan jelas. Kemudian rakyat akan menjadi korban dari runtuhnya intelektualitas dan idealisme mahasiswa. Apabila karakter ini dapat terbangun, mahasiswa dan gerakannya akan tetap menjadi tokoh intelektual dan peluang perubahan dalam masyarakat, yang bertanggung jawab dan penuh keberaniandemi menciptakan Indonesia yang damai dan berkeadilan sosial.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bagaimana Karakter Pemuda / Mahasiswa Indonesia Saat ini?"

Posting Komentar