Pentingnya Pendidikan Soft Skill dan Hard Skill yang Berimbang

Banyaknya pejabat korup yang merugikan Negara trilyunan rupiah baik di pemerintahan ataupun di legislatif, pemuda yang terlibat narkoba dan suka tawuran, mahasiswa yang terlalu berorientasi pada nilai, pelajar yang curang saat ujian, anak-anak dan remaja yang suka merokok, pornografi dan sex bebas sehingga dewasa sebelum umur yang seharusnya. Merupakan contoh-contoh nyata kerusakan karakter bangsa yang sudah terjadi hampir dua dekade di negeri ini, dengan alasan reformasi maka kebebasan individu dalam berkembang dan mendapatkan informasi menjadi hampir tanpa batasan yang jelas dan menjadi kebablasan. Siapa yang salah? Kurang tepat rasanya kalau kita menyalahkan salah satu ataupun beberapa pihak yang ada di negeri ini karena ini adalah tanggung jawab bersanma sebagai suatu bangsa.
Namun dari manakah perbaikan yang dirasa paling tepat untuk memperbaiki kebobrokan karakter bangsa yang sudah kurang bermoral ini? Adalah perbaikan pada calon penerus bangsa, kader-kader bangsa yang nantinya akan memimpin bangsa ini yaitu pada sosok-sosok para mahasiswa. Maka dari itu kita kita haruslah memperbaiki dan meluruskan pengembangan karakter mahasiswa agar menjadi seperti yang seharusnya.
Dalam keseharian sosialnya mahasiswa masih mengalami masalah yang menyangkut pengembangan karakternya antaralain dalam kemampuan bersosialisasinya yang masih kurang. Contoh nyatanya adalah bagaimana mahasiswa kurang dapat berkomunikasi dengan dosen pada saat proses kuliah. Mahasiswa kadang terlalu kaku dan kurang bisa aktif apalagi jika dosennya juga bertipe yang kurang kooperatif maka akan lebih kaku lagi keadaan kelas. Contoh lainya adalah kemampuan bersosialisasi terhadap sesama yaitu kurangnya kepedulian dengan orang-orang lain di sekitarnya, banyak mahasiswa yang hanya mau bergaul dan sibuk bergaul dengan kelompoknya saja dan kurang interaksi dengan orang lain diluar kelompoknya bahkan ada tipe mahasiswa yang hanya berinteraksi dengan beberapa orang saja tanpa memperdulikan orang lain di sekitarnya.
Berkurangnya karakter bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari juga terlihat dari sikap mahasiswa terhadap lingkungannya. Kita dapat mengambil beberapa contoh, antaralain: Coret - coret yang tidak perlu di dinding, Merusak prasarana meja atau kursi dengan sadar dan sengaja, Membuang sampah dan puntung rokok di sembarang tempat, Melakukan pencurian terhadap barang milik kampus maupun mahasiswa lain, Merokok dalam ruangan yang sudah jelas tertulis “Dilarang merokok didalam ruangan”, dan banyak lagi pelanggaran terhadap peraturan-peraturan yang menyangkut lingkungan sekitarnya.
Dengan melihat sikap dan perilaku sebagian mahasiswa yang kurang terpuji tersebut maka diperlukan suatu pembinaan dalam sebuah pendidikan formal maupun non formal. Dengan mengacu pada pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang menjunjung tinggi moral baik dalam semua aspek lingkungan dalam bermasyarakat, hal ini termuat dalam pembukaan UUD 1945 Alinea ke-4. Dengan kurang sadarnya mahasiswa melakukan tindakan itu maka dapat di ambil kesimpulan bahwa terjadi kegagalan pada pembentukan moral yang baik pada jiwa sebagian mahasiswa, oleh karena itu di perlukan suatu aturan yang bisa mengikat keseluruh manusia, bukan hanya mahasiswa saja, juga dosen atau karyawan yang aktif dalam kegiatan perkuliahan, baik didalam kampus maupun diluar kampus. Dengan aturan yang mengikat tersebut maka diharapkan dapat menciptakan moral yang baik bagi masyarakat Indonesia. Tetapi pembuatan aturan tersebut perlu di sosialisasikan melalui serangkaian pendidikan baik formal maupun non-formal.
Dalam pendidikan formal yang didapatkan mahasiswa dari kampus dirasa masih sangat kurang dalam segi pendidikan pengembangan karakter karena matakuliah seperti ini bukanlah prioritas dari pihak kampus. Bahkan ironisnya pendidikan pembangunan karakter seperti pendidikan pancasila dan pendidikan kewarganegaraan yang ada malah di padatkan dan dikurangi waktu kuliahnya. Dorongan dan kepedulian pemerintah dalam pengembangan karakter juga dirasa sangat kurang terbukti tidak adanya peraturan yang mengharuskan pemberian matakuliah seperti ini dengan jumlah dan porsi yang mencukupi.
Pada tingkat pendidikan dibawahnya yang seharusnya memberikan dasar pendidikan karakter mahasiswa itu sendiri masih dirasa kurang memadai, hal ini juga tidak lepas dari perubahan kurikulum yang kurang berkesinambungan hampir setiap pergantian pemerintahan. Di Indonesia sendiri di terapkannya pendidikan wajib bagi semua warga negara adalah Wajib Belajar 9 Tahun. Di awali dari pendidikan dasar atau biasa di sebut dengan SD selama 6 tahun, di lanjutkan SMP 3 tahun. Pada jenjang Sekolah Dasar sangat menentukan sikap atau karakter seseorang yang nantinya akan matang ketika semakin beranjak dewasa, istilahnya adalah pendidikan Sekolah dasar itu adalah benih yang di tabur, benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang bagus.
Dalam kenyataannya pendidikan Sekolah Dasar yang saya rasakan adalah lebih pada kompetisi untuk meraih juara, di dalam sisi lain hal ini positif. Namun di lain hal banyak yang mulai merasa ketika dia tidak mendapatkan nilai yang baik dia akan berusaha mendapatkan nilai dengan jalan yang tidak baik. Penekanan dalam sisi moral yang seharusnya di ajarkan di tekankan secara penuh, melebihi ilmu lain sebagai penyeimbang. Dalam hal ini potensi seorang siswa mendapatkan hal semacam itu terdapat pada PKN dan Pendidikan Agama. Namun porsi yang di hasilkan tidak sesuai dengan yang di harapkan, harap maklum ketika yang di ajarkan terlalu teoritis kepada anak-anak usia sekolah dasar hal ini belum bisa di terima oleh mereka. Yang meresap adalah apa yang di contohkan, apa yang dia lihat sepanjang waktu. Contoh kecilnya adalah bisa kita lohat ketika ada ulangan umum, banyak yang berlomba mendapatkan nilai yang bagus, sebenarnya bukan hal itu point pentingnya melainkan lebih pada sikap yang harus di ajarkan kepada mereka untuk mempersiapkan diri ketika ada yang namanya Ujian. Akibatnya banyak anak yang merasa tidak secerdas anak-anak yang lain tertekan dengan hal ini yang menyebabkan dorongan untuk berbuat kecurangan.
Oleh karena itu pendidikan formal saja dirasa sangat kurang apabila disandingkan dengan karakter mahasiswa yang nantinya diharapkan mampu memperbaiki bangsa. Perlunya adanya tambahan pendidikan yang tidak hanya terpaku pada kelas-kelas, kuliah-kuliah, ataupun matakuliah yang harus di ambilnya tetapi harus ada suatu pendidikan karakter yang lain yang lebih fleksible dan tidak memaksa yaitu pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal memiliki ciri yang berbeda dengan pendidikan formal (sekolah) baik dilihat dari: program yang dikembangkan, sasaran didik, kondisi sumber belajar, kurikulum, model pembelajaran, tujuan pembelajaran maupun model evaluasi yang harus dikembangkan dalam program-program pendidikan nonformal. Program pendidikan nonformal disusun atas dasar aktivitas mahasiswa belajar sendiri bukan berarti mau membantu mahasiswa belajar dalam mengembangkan kemampuannya. Akan tetapi justru hal tersebut sesuai dengan tugas sumber belajar yaitu membantu mahasiswa belajar dalam perkembangannya sendiri, membantu mahasiswa belajar agar dapat membantu dirinya sendiri. Oleh karena itu dalam diri mahasiswa dalam belajar terdapat dorongan alamiah untuk berkreasi, dan untuk berkembang sendiri.
Pendidikan nonformal dapat dicontohkan mulai dari pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berorganisasi (organisasi social kemasyarakatan, organisasi non pemerintahan dan organisasi nirlaba). Dalam kehidupan keluarga sendiri seharusnya secara tidak langsung pendidikan karakter sudah dimulai sejak dini dimana pembentukan karakter seseorang mulai dibentuk. Baik nantinya karakter tersebut meniru atau mirip dengan karakter yang dilihatnya atau bahkan berbeda dari yang ada disekitarnya. Namun pendikan ini sudah mulai dilupakan karena kesibukan orang tua yang mengakibatkan kurang hangatnya hubungan antar keluarga. Alangkah baiknya pendidikan karakter di keluarga mulai ditingkatkan lagi peranannya dengan disispkan nilai moral dan kebaikan dari agama sebagai penguat karakter seseorang.

Dalam bermasyarakat terdapat juga pendidikan karakter nonformal contohnya bagaimana seseorang tersebut bersosialisasi dan bertemu dengan banyak orang. Dalam pendidikan di lingkungan ini dapat menjadi ajang mengasah diri karakter seseorang dan seseorang tersebut diharapkan mampu bagaimana seharusnya karakter yang dimilikinya. Karena dalam kehidupan social dalam bermasyarakat orang tersebut dapat melihat mana orang yang sudah matang karakternya ataupun orang yang masih belum matang karakternya. Pendidikan nonformal selanjutnya yang diharapkan mampu menumbuhkan karakter mahasiswa yang lebih baik adalah organisasi, organisasi sendiri disini berarti sangat luas bisa diartikan organisasi sosial kemasyarakatan, organisasi non pemerintahan, dan organisasi nirlaba. Organisasi dikatakan mampu membangun karakter mahasiswa karena didalam berorganisasi seorang mahasiswa akan menjadi sukarelawan yang belajar menjadi seorang pekerja social tanpa imbalan, hal ini diharapkan mampu mendidik karakter mahasiswa yang mau berkorban tanpa melihat materi belaka. Hal lain yang membuat organisasi mampu mendidik mahasiswa menjadi lebih berkarakter adalah akan dihadapkannya mahasiswa tersebut dengan permasalahan-permasalahan organisasi yang mampu menambah pengalaman individu tersebut dalam mengambil keputusan atas suatu permasalahan. selain itu dalam berorganisasi ini akan meningkatkan intensitas seorang mahasiswa bertemu dengan orang lain yang memiliki perbedaan-perbedaan denganya yang nantinya membuat mahasiswa tersebut mampu mengerti arti  perbedaan dan bagaimana menyikapinya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pentingnya Pendidikan Soft Skill dan Hard Skill yang Berimbang"

Posting Komentar